Allah Mencintai Mereka dan Mereka Mencintai Allah
Allah Mencintai Mereka dan Mereka Mencintai Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 11 Rabiul Awal 1448 H / 24 Agustus 2026 M.
Kajian Tentang Allah Mencintai Mereka dan Mereka Mencintai Allah
Sifat-sifat tersebut terdapat dalam Surah Al-Maidah ayat 54–56. Pada ayat ke-54, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tiga sifat penting yang perlu diukur dalam diri setiap orang sebagai sebab datangnya pertolongan dan kemenangan dari Allah.
Sifat pertama:
… يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ…
“Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.” (QS. Al-Maidah [5]: 54)
Sifat kedua:
… أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ…
“Mereka bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada orang-orang beriman serta tegas terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Maidah [5]: 54)
Sifat ketiga:
… يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ…
“Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela.” (QS. Al-Maidah [5]: 54)
Allah Mencintai Mereka dan Mereka Mencintai Allah
Sifat pertama telah dibahas melalui beberapa dalil Al-Qur’an dan hadits, termasuk hadits qudsi. Pembahasan dilanjutkan mengenai sifat “Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.”
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا
“Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Amal apa yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.’” (HR. Bukhari; HR. Muslim)
Amal yang paling dicintai Allah menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah melaksanakan shalat pada waktunya. Ketika seseorang menjaga shalat pada waktunya, Allah akan mencintai kita.
كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang sangat dicintai oleh Ar-Rahman, ringan di lisan, tetapi berat di timbangan: ‘Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘azhim.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dua kalimat tersebut sangat dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih, ringan diucapkan, tetapi berat di timbangan amal.
Subhanallahi wa bihamdihi berarti Mahasuci Allah dengan segala pujian bagi-Nya. Subhanallahil ‘azhim berarti Mahasuci Allah Yang Mahaagung. Kedua kalimat ini sangat dicintai Allah.
Kedua kalimat tersebut mudah diucapkan, tetapi sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keduanya akan memberatkan timbangan amal.
Orang yang ingin mendapatkan cinta Allah hendaknya memperbanyak dzikir dengan membaca Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘azhim. Dzikir ini dicintai Allah Ar-Rahman, mudah diucapkan, dan memberatkan timbangan amal.
Setiap orang menginginkan timbangan amal kebajikannya berat pada hari kiamat. Salah satu amalan yang dapat dilakukan ialah membaca dua kalimat tersebut.
Bacalah Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘azhim ketika duduk, berjalan, atau berada di kendaraan. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa dzikir. Kedua kalimat ini paling dicintai Allah Ar-Rahman dan dapat memberatkan timbangan amal.
Sifat yang Dicintai Allah
Orang yang ingin mendapatkan kasih sayang Allah dan memiliki timbangan amal kebajikan yang berat hendaknya memperhatikan dua sifat yang dicintai Allah, yaitu al-hilm dan al-anah.
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Asyaj bin Abdul Qais, “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah, yaitu al-hilm dan al-anah.”
Al-hilm berarti mampu menahan marah dan tidak mudah marah, sedangkan al-anah berarti tidak terburu-buru.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan teladan yang baik dalam menerapkan kedua sifat tersebut.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Menahan Diri ketika Memberi Nasihat
Ketika melewati seorang wanita yang sedang menangis dan meratap di kuburan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu mengusir beliau dan berkata, “Pergilah dariku. Engkau tidak mengalami musibah seperti yang kualami.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak marah.
Para ulama mengambil pelajaran bahwa orang yang memberikan nasihat harus siap menahan gangguan dan sesuatu yang tidak mengenakkan dari orang yang dinasihati. Seorang pemberi nasihat tidak semestinya membalas penolakan dengan kemarahan, karena orang yang dinasihati mungkin tidak mengetahui siapa yang menasihatinya dan sedang mengalami musibah besar.
Setelah diberi tahu bahwa yang menasihatinya adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, wanita itu mendatangi rumah beliau. Anas bin Malik menyebutkan bahwa tidak ada penjaga yang menghalangi umat untuk bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah pemimpin besar dan manusia yang paling mulia, tetapi tidak menggunakan pengawalan untuk menghalangi umat.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian menjelaskan bahwa kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran ketika menghadapi musibah pada saat pertama kali terjadi.
Seorang dai, ustadz, atau kiai hendaknya dapat bertemu dengan umat yang membutuhkan selama keadaan aman. Tidak pantas umat dihalangi oleh panitia, pengawal, atau pihak lain tanpa alasan yang dibenarkan. Teladan dalam hal ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kecintaan Allah kepada Rasulullah dan Para Sahabat
Allah ‘Azza wa Jalla mencintai Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai khalil, sebagaimana Dia menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil. Allah memilih Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengemban risalah-Nya dan mencintai para sahabat beliau. Allah memilih mereka untuk menjadi sahabat Nabi, menolong agama-Nya, serta meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah melihat hati manusia dan mendapati hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai hati yang terbaik. Karena itu, Allah memilih beliau untuk mengemban risalah-Nya. Setelah itu, Allah melihat hati manusia dan mendapati hati para sahabat Nabi sebagai hati terbaik setelah hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Pelajarannya, siapa pun yang ingin mengemban risalah dakwah harus memperbaiki hati. Hati memiliki kedudukan penting. Orang yang hatinya kuat dan ikhlas adalah orang yang siap membawa dakwah dan mengemban risalahnya.
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah [9]: 100)
Mencintai para sahabat merupakan bagian dari keimanan, sedangkan membenci mereka merupakan tanda kemunafikan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
آيَةُ الإِيمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأَنْصَارِ
“Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, sedangkan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda,
الأَنْصَارُ لاَ يُحِبُّهُمْ إِلاَّ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يُبْغِضُهُمْ إِلاَّ مُنَافِقٌ، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang mencintai kaum Anshar kecuali dia seorang mukmin, dan tidaklah seseorang membenci mereka kecuali dia seorang munafik. Barang siapa mencintai para sahabat, Allah akan mencintainya. Sebaliknya, barang siapa membenci mereka, Allah akan membencinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu ciri orang beriman ialah mencintai para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Para sahabat adalah orang-orang yang dicintai Allah. Karena itu, wajib mencintai, menghormati, dan memuliakan mereka; tidak mencaci atau menyebut mereka dengan celaan; serta mendoakan kebaikan bagi mereka—radhiyallahu ‘anhum wa radhu’anhu.
Imam Ath-Thahawi rahimahullah dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah berkata bahwa kaum Muslimin mencintai para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak berlepas diri dari seorang pun di antara mereka. Beliau berkata:
“Kami mencintai para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kami tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka dan tidak berlepas diri dari seorang pun di antara mereka. Ahlus Sunnah wal Jamaah membenci orang-orang yang membenci para sahabat.”
Membenci orang yang menyebut mereka dengan keburukan dan tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan merupakan bagian dari aqidah.
“Kami tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, iman, dan ihsan; sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan sikap melampaui batas.”
Tidak masuk akal seseorang mengaku beriman kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai nabi serta rasul, tetapi mencela para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagian orang bahkan mengklaim bahwa melaknat para sahabat merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Kaum Syiah, misalnya, melaknat Abu Bakar dan Umar serta mendoakan keburukan bagi keduanya.
Orang yang melakukan hal tersebut termasuk manusia yang paling berdusta. Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan membongkar kebohongannya di dunia dan di akhirat.
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ
“Pada hari Kiamat, engkau akan melihat orang-orang yang berdusta atas nama Allah; wajah mereka menjadi hitam.” (QS. Az-Zumar [39]: 60)
Di antara sahabat yang sering diserang ialah Abu Hurairah. Ia masuk Islam pada tahun ketujuh Hijriah, tetapi meriwayatkan banyak hadits. Dengan meragukan Abu Hurairah, ribuan hadits dapat ditolak oleh kaum Muslimin. Muawiyah juga sering dicela. Mencela para sahabat, meskipun dengan bahasa yang halus, merupakan ciri penyimpangan akidah dan tetap berbahaya.
Dampak Kecintaan Allah kepada Hamba
Salah satu dampak kecintaan Allah kepada hamba-Nya ialah Allah menanamkan kecintaan kepada hamba tersebut di dalam hati manusia.
وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي
“Aku limpahkan kepadamu kecintaan dari-Ku.” (QS. Thaha [20]: 39)
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Ar-Rahman akan menanamkan kecintaan untuk mereka.” (QS. Maryam [19]: 96)
Orang yang ingin mendapatkan cinta Allah dan cinta hamba-hamba Allah yang saleh hendaknya memperkuat iman dan mengerjakan amal saleh.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُؤْضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الأَرْضِ
“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah dia.’ Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia.’ Penduduk langit pun mencintainya. Setelah itu, kecintaan kepadanya diberikan di muka bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penduduk langit yang dimaksud ialah para malaikat. Alangkah bahagianya orang yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Allah Mencintai Mereka dan Mereka Mencintai Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56496-allah-mencintai-mereka-dan-mereka-mencintai-allah/